Kamis, 17 Maret 2011

Contoh Proposal PTK

UPAYA-UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA PRANCIS DENGAN METODE JEUX DE RÔLES PADA SISWA KELAS XI BAHASA SMA NEGERI 7 PURWOREJO

Oleh:
Natiqotul Muniroh 07204241003


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA PRANCIS
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2008


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), penjurusan pada SMA/MA/SMK di mulai ketika siswa memasuki kelas XI. Hal ini dimaksudkan agar siswa mendapat pembelajaran yang lebih fokus sesuai minat, cita-cita dan kemampuan masing-masing. Seperti program jurusan lainnya, jurusan Bahasa diadakan sebagai wadah untuk siswa yang menguasai bidang kebahasaan agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Pengajaran bahasa bertujuan agar siswa menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Indonesia dan bahasa asing sebagai alat komunikasi di dunia internasional. Dengan memeroleh bahasa asing, siswa dapat memahami dan mengungkapkan informasi, ide, serta mempelajari kebudayaan tentang negara itu sendiri maupun nagara-negara yang ada di dunia. Dirasa pentingnya mempelajari bahasa asing, Sebagian besar SMA memberikan bahasa asing sebagai keterampilan bahasa asing yang dialokasikan dalam KTSP.
Bahasa Prancis merupakan salah satu bahasa asing yang diajarkan pada SMA, mengingat bahasa Prancis adalah bahasa Internasional kedua yang digunakan lebih dari separuh penduduk dunia. Selain itu, bahasa Prancis merupakan bahasa resmi yang digunakan dalam organisasi tingkat dunia. Disamping berperan sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, bahasa ini dapat menjadi alat untuk mencapai tujuan ekonomi, hubungan antar bangsa, sosial budaya, serta pengembangan karier. Bahasa Prancis memiliki posisi penting sehingga menjadi kesadaran bahwa bahasa Prancis dapat dijadikan sarana untuk mengenal dunia dalam era globalisasi ini.
Seperti yang dinyatakan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), bahasa Prancis menekankan aspek keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan bahasa lisan dan tulis baik respektif maupun produktif. Untuk menguasai bahasa Prancis, diperlukan keterampilan berbahasa yang mencakup 4 aspek, yaitu keterampilan mendengar ’Compréhension Orale’, keterampilan berbicara ’Expression Orale’, keterampilan membaca ’Compréhension Ecrite’, dan keterampilan menulis ’Expression Ecriet’. Keterampilan berbicara merupakan salah satu aspek dari keterampilan berbahasa yang penting untuk dikuasai. Untuk berbicara lancar, terlebih dulu harus menguasai keterampilan tersebut yang didukung aspek-aspek lainnya. Untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa Prancis khususnya secara lisan, ada beberapa kompetensi yang harus dikuasai, antara lain: kedua belah pihak yaitu pembicara dan pendengar harus memahami maksud dari kata-kata yang digunakan. Selain itu, bahasa Prancis memiliki struktur tata bahasa yang sangat kompleks, sehingga penting juga untuk mempelajari struktur tata bahasa dan sistematika bahasa Prancis untuk mendukung keterampilan berbicara bahasa Prancis.
Apabila ditinjau dari hasil pengajaran bahasa Asing, khususnya bahasa Prancis di sekolah, pada umumnya hasil hasil sudah mulaki terlihat dalam segi kuantitas (nilai) yang cukup memuaskan. Namun, dalam segi kualitas ternyata masih dirasa sangat kurang. Sebagian besar siswa masih enggan untuk berbicara dalam bahasa Prancis dengan berbagai alasan, mulai dari rasa tidak percaya diri, malu, tidak bisa, takut salah karena penguasaan kosa kata dan struktur gramatiknya yang masih acak-acakan jika digunakan saat berbicara, pelafalan yang masih kacau dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap guru SMA Negeri 7 saat observasi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Prancis di SMA ini mengutamakan keterampilan membaca dan berbicara, mengingat pentingnya komunikasi langsung pada zaman globalisasi sekarang. Namun, beberapa permasalahan yang muncul dalam pembelajaran bahasa Prancis adalah antusiasme siswa terhadap bahasa Prancis yang masih kurang, taraf kemampuan siswa yang berbeda-beda dan kurangnya rasa percaya diri siswa untuk berbicara dalam bahasa Prancis. Selain itu, adanya faktor ketakutan pada siswa untuk berbicara karena penguasaan kosa kata, struktur gramatikal dan pelafalan yang dinilai masih minim. Padahal keterampilan berbicara sangat penting untuk berkomunikasi saat ini, sehingga keterampilan berbicara dalam kurikulum SMA N 7 Purworejo khususnnya kelas XI Bahasa mendapat alokasi waktu yang lebih banyak. Pada umumnya, siswa cenderung menguasai keterampilan membaca dan menulis (komunikasi tertulis) dibandingkan dengan keterampilan mendengar atau berbicara (komunikasi lisan). Permasalahan yang paling utama adalah tingkat antusiasme belajar yang masih kurang. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal antara lain adalah minat, kecerdasan, rasa takut, rasa percaya diri, dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal antara lain adalah fasilitas belajar, metode pembelajaran, media pembelajaran, lingkungan belajar dan sebaginya.
Banyaknya anggapan siswa bahwa bahasa Prancis sulit dipelajari membuat siswa malas dan kurang berminat dalam mempelajari bahasa Prancis. Salah satu faktor ekstern yang penting dan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar bahasa Prancis adalah penggunaan metode pembelajaran. Kurangnya variasi metode menyebabkan siswa merasa jenuh dan pasif terhadap pembelajaran yang akhirnya dapat menghambat kelancaran proses pembelajaran dan hasil pencapaian siswa, baik yang akademik maupun nonakademik.
Pelajaran bahasa Prancis di SMA Negeri 7 Purworejo termasuk ke dalam pelajaran wajib bagi kelas X, program jurusan bahasa dan IPS. Jumlah jam pelajaran yang padat tetapi dihadapkan dengan kurangnya tenaga pengajar bahasa karena hanya memiliki dua guru bahasa Prancis. Hal tersebut menjadikan guru dituntut kreatif dalam menerapkan metode pembelajaran yang dapat merangsang keaktifan dan kemandirian para siswa karena salah satu kelemahan dalam pembelajaran bahasa asing pada umumnya adalah terjebak pada pengunaan metode pengajaran yang belum menjurus ke arah pengembangan kemampuan aktif siswa. Penggunaan metode yang bervariasi dapat membuat siswa lebih aktif dan tertarik mempelajari bahasa Prancis dibandinglan hanya menggunakan metode klasikal tertentu yang membuat siswa bergantung pada guru. Metode pembelajaran aktif dapat meningkatkan kemandirian siswa.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dicari alternatif metode yang dapat merangsang antusiasme dan keaktifan siswa agar dapat balajar bahasa Prancis dengan menyenangkan. Salah satu metode yang perlu diterapkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Prancis adalah metode jeux de roles. Metode jeux de roles dalam bahasa Indonesia adalah bermain peran. Dalam jeux de roles, siswa memainkan peran dari karakter tertentu. Siswa dapat menjiwai perannya tersebut berbicara dan bertingkah laku sesuai dengan karakter yang diperankan. Metode ini sangat bagus untuk diterapkan agar para siswa tertantang untuk berbicara bahasa Prancis lebih baik. Metode tersebut menggunakan teks wacana dan percakapan yang terdapat dalam buku maupun hasil karya siswa. Sehingga akan mengembangkan ide, daya imajinasi, kreativitas, ekspresi, dan mengubah aktivitas duduk yeng tenang ke aktivitas gerakan, ucapan, maupun mental yang tanggap terhadap orang lain atau suatu permasalahan.


B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, timbul berbagai masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Kurangnya antusias siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo dalam berbicara bahasa Prancis.
2. Kurangnya minat siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo dalam berbicara bahasa Prancis.
3. Rendahnya keterampilan berbicara bahasa Prancis pada siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo.
4. Kurangnya penggunaan metode pengajaran yang bervariasi yang sesuai dengan pengajaran bahasa Prancis di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo.
5. Kurangnya metode pembelajaran bahasa Prancis yang aktif dan menyenangkan di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo.
6. Belum maksimalnya upaya meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Prancis dengan metode jeux de rôles pada siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi di atas, dapat diketahui bahwa masalah-masalah yang berkaitan dengan keterampilan berbicara bahasa Prancis sangat kompleks. Maka, permasalahan ini dibatasi pada ”upaya-upaya meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Prancis dengan metode jeux de rôles pada siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo”.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang menjadi pusat penelitian yaitu ”Bagaimana upaya-upaya meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Prancis dengan metode jeux de rôles pada siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo”.

E. Tujuan Penelitian
Adapun penelitian ini bertujuan ”untuk mengetahui upaya-upaya meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Prancis dengan metode jeux de rôles pada siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo”

F. Manfaat Penelitian
Manfaat yangt diharapkan melalui kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang bahasa khususnya bahasa Prancis dan dapat dijadikan referensi yang relevan bagi penelitian di masa yang akan datang.
2. Manfaat praktis
a. Bagi akademika atau pengembang ilmu
1) Dapat memeroleh masukan yang bermanfaat terhadap metode, strategi, dan teknik yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran bahasa Prancis.
2) Dapat mengetahui upaya-upaya meningkatkan keterampilan berbicara dengan metode jeux de roles.
b. Bagi pengelola pendidikan
1) Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar.
2) Sebagai masukan bagi guru dalam menerapkan metode pembelajaran yang praktis sehingga dapat meningkatkan keaktifan siswa.
3) Sebagai masukan dan usaha meningkatkan potensi belajar siswa khususnya pada bidang studi bahasa Prancis.
c. Bagi peneliti
Sebagai mahasiswa yang diidik menjadi calon guru bahasa Prancis, penelitian ini sangat bermanfaat untuk mendapatkan pengalaman berharga terkait dengan pembelajaran bahasa Prancis, khususnya penerapan metode jeux de rôles sebagai upaya meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Prancis siswa SMA dalam pembelajaran bahasa Prancis di SMA Negeri 7 Purworejo.


BAB II
TELAAH PUSTAKA

A. Kajian Teoritik
1. Keterampilan Berbicara
a. Pengertian Keterampilan Berbicara
Dalam Geroys Keraf (1997: 1)Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Salah satu keterampilan yangb sangat penting dalam belajar bahasa menurut Syafi’i yang dikutip Susmita (1996:11) adalah keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara dari dulu mendapat perhatian yang besar (Subyakto,1988: 153). Dibandingkan dengan waktu yang lampau, pengajaran bahasa (asing) dewasa ini banyak ditujukan pada keterampilan lisan (Sartinah, 1988: ). Sedangkan menurut Tarigan (1986: ), dalam sehari-hari manusia dihadapkan dengan berbagai kegiatan yang menuntut keterampioan berbicara. Mengingat pentingnya peranan keterampilan berbicara dalam dalam kehidupan sehari-hari perlu digalakkan pengajaran berbicara di sekolah.
Keterampilan berbicara adalah keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi dan artikulasi dan mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan (Tarigan, 1985: 15). Selanjutnya Tarigan juga menyatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan dapat dilihat (visible). Yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan oto tubuh demi maksud dan tujuan, gagasan atau ide yang dikombinasikan. Munurut Mulgrave (1954: 3-4) dalam Tarigan, berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara dapat memahamiatau tidak, baik bahan pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya dan apakah dia waspada, antusias atau tidak. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang sudah disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak (Tarigan, 1985: 15) Dengan demikian berbicara lebih dari sekedar pengucapan bunyi atau kata-kata, tetapi juga mengandung makna yang dapat diterima oleh penyimak.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara adalah keterampilan untuk menyampaikan suatu maksud, ide, gagasan, atau pikiran pada orang lain dengan maksud dapat dipahami pendengarnya. Keterampilan berbicara sangat penting bagi orang untuk berkomunikasi dengan didukung keterampilan lainnya.
b. Tujuan Ketrampilan Berbicara
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Menurut Subyakto (1988:152), tujuan pertama kemampuan komunkatif ialah untuk menyampaikan pesan kepada orang, yakni untuk mampu berkomunikasi mengenai sesuatu dalam bahasa. Tujuan kedua ialah menyampaikan pesan kepada orang ain dalam cara yang secara sosial (social tool) ataupun sebagai alat perusahaan maupun alat profesional (bussines or professional tool), maka pada dasarnya berbicara mempunyai maksud umum menurut Och and Winker (1979: 9) dalam Tarigan yaitu:
1) Memberitahukan, melaporkan (to inform)
2) Menjamu, menghibur (to entertain)
3) Membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (to persuade)
Sedangkan menurut Maidar (1993: 17), tujuan berbicara adalah adalah memberitahukan sesuatu pada orang lain agar orang tersebut paham dengan isi pembicaraan. Agar dapat menyampaikan pembicaraan secara efektif, sebaiknya pembicara benar-benar pahammememahami apa yang dibicarakannya. Di samping itu, ia harus dapat mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, tujuan keterampilan berbicara adalah cakap untuk berkomunikasi dan mampu menyampaikan pesan kepada orang lain agar orang tersebut paham dengan maksud yang disampaikan. Selain itu, tujuan berbicara adalah memberitahukan, menghibur dan mengajak orang lain.
c. Peningkatan Keterampilan Berbicara
Pembicaraan yang baik memudahkan penyimak untuk menangkap pembicaraan yang disampaikan. Dalam mengembangkan keterampilan bercicara perlu adanya pengaturan bahan bagi penampilan lisan, perlu penganalisisan pemirsa, penyesuaian ide dan susunannya bagi para pndengar, perlu penggunaan ekspresi yag jelas dan efektif bagi komunikasi kelompok yang khusus dan perlu belaar menyimak denganh seksama dan penuh perhatian (Mulgrave dalam Tarigan, 1985: 22) Sedang menurut Sartinah (1988: ), kemampuan berkomunikasi dengan bahasa sehari-hari harus dilakukan secara intuitif yang didasarkan oleh rasa bahasa serta speech habits yang sudah dikuasai secara otomatis dengan berkonsentrasi pada buah pikiran secara sadar. Suatu hal yang penting pula ialah pengembangan keterampilan berbicara aktif didasari pula oleh keterampilan pasif 6ang terdiri atas kemampuan menangkap dan mengerti bahasa yang diucapkan. Pengembangan ketrampilan berbicara bahasa asing juga bisa dibantu dengan membaca teks dalam bahasa asing dan latihan menulis agar keterampilan berbicara secara aktif dan produktif bisa dikuasai secara mantap. Masih menurut Sartinah, cara melatih siswaagar dapat terampil mengungkapkan diri dalam bahasa asing secara lisan adalah: 1) Dalam mengungkapkan bahasa asing sehari-hari, siswa harus mampu memilih materi leksik dan gramatikal yang sesuai. 2) Ungkapan harus merupakan bahasa yang lazim dipakai, yaitu bahasa yang dipakai siswa sehari-hari dalam mengadakan dialog dngan siswa lain.
Dalam Tarigan & Tarigan (1986: 90) disebutkan bahwa untuk meningkatkan keterampilan berbicara dapat dilakukan dengan teknik pengajaran bahasa antara lain: 1) ulang ucap, 2) lihat dan ucapkan, 3) mendeskripsikan, 4) menjawab pertanyaan, 5) percakapan, 6) reka cerita gambar, 7) bercerita, 8) dramatisasi, 9) pertanyaan menggali, 10) melanjutkan cerita, 11) cerita berantai, 12) menceritakan kembali, 13) percakapan, 14) parafrase, 15) reka cerita gambar, 16) memberi petunjuk, 17) bercerita, 18) dramatisasi, 19) laporan pandangan mata, 20) bermain peran, 21) bertelepon, 22) wawancara, 23) diskusi.
Peningkatan keterampilan berbicara dapat dilakukan dengan berbagai metode dan telnik, kebiasaan, dan pengembangan keterampilan lain sebagai pendukung, serta menggunakan bahasa yan lazim digunakan dalam kehidupan sehasri-hari.


d. Faktor-faktor kebahasaan dan Nonkebahasaan sebagai Penunjang Kefeektifan Berbicara
Untuk menjadi pembicara yang baik, seseorang harus berbicara dengan jelas dan tepat. Selain itu, pembicara juga harus menguasai masalah apa yang ia bicarakan dan memperlihatkan keluwesan berbicara. Menurut Arsyad (1991, 87) ada beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh si pembicara untuk keefektifan berbicara yaitu faktor kebahasaan dan faktor non kebahasaan.
1) Faktor-faktor kebahasaan
a) ketepatan ucapan
b) tekanan, nada
c) pilihan kata (diksi)
d) ketepatan sasaran pembicaraan
2) Faktor-faktor non kebahasaan
a) sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku
b) pandangan terus diarahkan pada lawan bicara
c) kelancaran
d) gerak-gerik dan mimik yang tepat
e) kenyaringan suara
f) penalaran/ relevansi
g) penguasaan topic
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berbicara bukanlah kemampuan yang berdiri sendiri. Melainkan saling berkaitan dengan kemampuan berbahasa yang lain. Untuk pembelajar bahasa asing khususnya bahasa Prancis, pada tingkat awal diharapkan bdapat berbicara dengan baik walaupun dalam kalimat sederhana.

2. Metode Jeux de Rôles
a. Pengertian Metode
Metode, cara atau teknik pengajaran merupakan komponen proses belajar mengajar yang banyak menentukan keberhasilan pengajaran. Keberhasilan dalam melaksanakan suatu pengajaran sebagian besar ditentukan oleh piihan bahan dan metode yang tepat (Tarigan & Tarigan, 1986: ). Sedangkan Subyakto (1988: 9) menyatakan ” Method ialah tingkat yang menerapkan teori-teori pada ti8ngkat approach. Dalam tingkat ini diadakan pilihan-pilihan tentan keterampilan khusus mana yang harus diajarkan, materi-materi apa yang harus disajikan. Metode dan teknik yang membuat para pembelajar terus berkeinginan untuk mengembangkan pengetahuannya secara mandiri. Dalam pembelajaran bahasa asing, sudah cukup lama dikenal dengan istilah pendekatan komunikatif atau communicative approach sebagai reaksi terhadap metode pengajaran bahasa baik yang tradisional maupun situasional. Pendekatan komunikatif menurut Richard et al (1986) dalam kamaludin dan farida, adalah pengajaran bahasa yang dilandasi teori komunikasi dan fungsi bahasa dengan tujuan mengembangkan kemampuan komunikatif serta meningkatkan kemampuan keempat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis). Metode komunikatif mempunyai metode pengajaran yang bervariasi terutama metode bermain peran.
b. Metode Jeux de Rôles
Metode jeux de role dalam bahasa Indonesia adalah metode bermain peran dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah role playing. Dalam wikipedia, bermain peran diartikan sebagai sebuah permainan dimana para pemain memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi untuk merajut sebuah cerita bersama. Menurut Azies dan Alwasilah (1996: 95-101) dalam Kamaludin dan Farida, menjelaskan bahwa teknik bermain peran banyak dipakai dalam pengajaran bahasa karena kegiatan belajar dan mengajar dengan teknik ini sangat menyenangkan. Bermain peran dapat dilakukan dengan mengikuti dialog yang ada dalam wacana, bisa dilakukan berperan bebas sesuai dengan imajinasi dan kreatifitas para pembelajar. Bruce dan Marsha ( 1986: 102) menyebutkan bahwa melalui bermain peran, siswa bertindak, berlaku, dan berbahasa dengan peranan tokoh yang diperankannya, misal sebagai guru, orang tua, dokter dan sebagainya. Setiap tokoh yang diperankan menuntut karakteristik tertentu pula. Metode bermain peran sangat baik dalam mendidik siswa dalam menggunakan ragam-ragam bahasa (Tarigan, 1986: 122). Dijelaskan pula dalam Soeparno (1987: 101) bahwa bermain peran menampilokan sikap, tingkah laku, watak dan prangai suatu peran untuk menciptakan imajinasi yang dapat melukiskan peristiwa sebenarnya.
Jika dilihat dari beberapa pebgertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bermain peran adalah suatu metode pembelajaran yang berupa ucapan dan tindakan secara sadar dalam memerankan suatu tokoh atau karakter.
c. Tujuan Metode Jeux de Rôles
Secara sederhana, metode jeux de role merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui tokoh yang diperankan. Menurut Soeparno (1987:101), tujuan dari bermain peran (jeux de role) adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih memahami kalimat-kalimat yang diucapkan orang lain secara tepat dengan apa yang dimaksud. Menurut Bruce Joyce dan Marsha Weil (1986:102) menyebutkan bahwa melalui bermain peran, siswa dapat meningkatkan kemampuan mengenal diri dan perasaan orang lain, selain itu mereka juga dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Selain itu bermain peran juga dapat meningkatkan kreatifitas murid dalam memecahkan masalah melalui berbagai cara yang bebas dalam permainan tersebut.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa bermain peran bertujuan memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih mengungkapkan dan memahami apa kata yang diucapkan, belajar untuk memecahkan masalah secara kreatif dan belajar keterampilan berbicara secara menyenangkan melalui karakter yang diperankan.
d. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Jeux de Rôles
Menurut Alwasilah dan Azies (1996:97-101) ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam menggunakan metode jeux de role antara lain:
1) Memilih peran atau adopsi peran
Memilih peran atau adopsi peran adalah istilah untuk menggambarkan sebuah aktivitas jenis drama, yaitu masing-masing siswa dari sebuah kelompok atau pasangan menggunakan identitas baru yang diambil dari tokoh yang ada dalam buku teks.
2) Bermain peran terbimbing
Bermain peran terbimbing biasanya berfokus fungsional, dengan serangkaian tugas yang harus diselesaikan siswa dalam situasi tertentu. Siswa terlebih dulu belajar ungkapan-ungkapan dan kosa kata yang berkaitan. Dalam bermain peran jenis ini ada beberapa guru yang membiarkan imaginasi siswa berjalan apa adanya.
3) Bermain peran bebas dari teks
Bermain peran jenis ini tidak membutuhkan persiapan sama sekali. Siswa dan guru maju ke depan kelas dengan perannya masing-masing, tetapi siswa telah diberitahukan bahwa ia akan memainkan peran-peran lanjutan.
Schaftel dan Schaftel dalan Dahlan (1990: 128) mengemukakan sembilan tahap bermain peran, yaitu:
1) merangsang semangat kelompok
2) memilih peran
3) mempersiapkan pengamatan
4) mempersiapkan tahap-tahap peran
5) pemeranan
6) mendiskusikan dan mengevaluasi peran serta isinya
7) pemeranan ulang
8) pemeranan didiskusikan dan dievaluasi kembali
9) mengkaji pemanfaatannya dalam kehidupan nyata melalui tukar pengalaman dan penarikan generalisasi.
e. Kelebihan dan Kekurangan Metode Jeux de Rôles
Djajadisastra (1982: 41-42) mengemukakan kelebihan dan kekurangan metode bermain peran sebagai berikut:
1) Kelebihan metode jeux de rôles
a) Memainkan suatu judul lakon dapat menyalurkan perasaan atau keinginan terpendam saat memainkan peran tertentu.
b) Merupakan hiburan bagi siswa dan menikmati suatu peran dalam lakon tertentu.
c) Siswa yang bermnain peran tersebut memeroleh kesempatan untuk belajar mencurahkan penghayatan problem di depan orang.
d) Memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa yang memainkan.
2) Kekurangan metode jeux de rôles
a) Siswa yang tidak mempunyai kematangan psikis tidak mungkin menghasilkan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
b) Keterbatasan waktu yang digunakan tidak memberi kesempatan untuk menentukan langkah secara wajar.
c) Rasa malu akan menghambat kewajaran bermain peran.
Beberapa kelebihan dan kekurangan tersebut dapat dijadikan pertimbangan bila ingin diterapkan di kelas. Sebelumnya harus disampaikan dan keadaan siswanya sehingga dapat menyampaikan materi pelajaran dengan baik.

B. Penelitian Lain yang Relevan
Penelitian sebelumnya yang menjadi masukan adalah penelitian yang dilakukan oleh Riana Rahmawati (2007) dengan judul ” Upaya-Peningkatan Kualitas Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman di Kelas XI Bahasa MAN Yogyakarta II”. Dalam laporan penelitiannya dinyatakan bahwa Rollenspiel (bermain peran) yang disinergikan dalam dengan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan keterlibatan siswa yang semula 60% menjadi 80%, khususnya aspek keberanian siswa dalam berbicara menggunakan bahasa Jerman di depan kelas dan mengatasi kesulitan dalam mengucapkan kata atau kalimat dalam bahasa Jerman.
Penelitian yang dilakukan oleh Vanda Lailaningsih (2007) dengan judul ”Keefektifan Penggunaan Teknik Rollenspiel PADA Pengajaran Bahasa Jerman di SMA Negeri 1 Sedayu Bantul”. Dalam laporan penelitiannya, dinyatakan hasil penelitian menunjukkan bahwa t-hitung = 8,175 lebih besar dari t-tabel =1,997 pada taraf signifikasi α = 0,05 dan db sebesar 65. Rerata kelompok eksperimen sebesar 48,60 lebih tinggi daripada rerata kelompok kontrol 42,11 dan bobot keefektifan sebesar 15,19 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 1) ada perbedaan prestasi yang signifikan dalam keterampilan berbicara bahasa Jerman siwa antar kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan teknik rollenspiel, 2) Pengajaran berbicara bahasa Jerman dengan menggunakan teknik rollenspiel lebih efektif daripada tanpa menggunakan teknik rollenspiel.

C. Kerangka Berpikir
Pengajaran bahasa asing pada keterampilan berbicara khususnya bahasa Prancis di berbagai lembaga pendidikan menengah belum mencapai hasil yang diharapkan. Salah saru kelemahan pengajaran pada umunya terletak pada metode pengajaran yang belum menjurus ke penggunaan struktur-struktur dasar secara lisan yang merupakan landasan untuk mengembangkan kemampuan pasif maupun aktif. Dibandingkan dengan waktu yang lampau, pengajaran bahasa Prancis dewasa ini lebih mengembangkan pada keterampilan berbicara. Kemampuan mengungkapkan diri dalam bahasa Prancis tidak akan berkembang jika siswa hanya disuruh menghafal teks atau dialog saja. Jika suatu komunikasi verbal diadakan, orang harus selalu menciptakan cara baru untuk mengungkapkan ide, gagasan, atau pikiran yang sesuai dengan jalannya komunikasi.
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Prancis, tidak terlepas dari peran guru dalam menggunakan metode pembelajaran di kelas. Dalam hal ini guru harus teliti dan mempertimbangkan kelebihan serta kekurangan tiap-tiap metode pembelajaran yang diterapkan di kelas. Ketepatan guru dalam menggunakan metode sangat mendukung keberhasilan siswa dalam menerima materi pelajaran.
Masih rendahnya kualitas pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Prancis khususnya di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo tahun ajaran 2008/2009 sangat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya guru, siswa, materi, metode dan media pembelajaran. Untuk mengatasi permasalahan di atas, pemecahan alternatif tindakan perbaikan didiskusikan oleh peneliti dengan guru mata pelajaran bahasa Prancis dengan melaksanakan tindakan jeux de rôles

D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir diatas, maka hipotesistinadakan dalam penelitian ini adalah: ”Dengan diterapkan metode Pengajaran bahasa asing pada keterampilan berbicara khususnya bahasa Prancis di berbagai lembaga pendidikan menengah belum mencapai hasil yang diharapkan. Salah saru kelemahan pengajaran pada umunya terletak pada metode pengajaran yang belum menjurus ke penggunaan struktur-struktur dasar secara lisan yang merupakan landasan untuk mengembangkan kemampuan pasif maupun aktif. Dibandingkan dengan waktu yang lampau, pengajaran bahasa Prancis dewasa ini lebih mengembangkan pada keterampilan berbicara. Kemampuan mengungkapkan diri dalam bahasa Prancis tidak akan berkembang jika siswa hanya disuruh menghafal teks atau dialog saja. Jika suatu komunikasi verbal diadakan, orang harus selalu menciptakan cara baru untuk mengungkapkan ide, gagasan, atau pikiran yang sesuai dengan jalannya komunikasi.
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Prancis, tidak terlepas dari peran guru dalam menggunakan metode pembelajaran di kelas. Dalam hal ini guru harus teliti dan mempertimbangkan kelebihan serta kekurangan tiap-tiap metode pembelajaran yang diterapkan di kelas. Ketepatan guru dalam menggunakan metode sangat mendukung keberhasilan siswa dalam menerima materi pelajaran.
Masih rendahnya kualitas pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Prancis khususnya di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo tahun ajaran 2008/2009 sangat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya guru, siswa, materi, metode dan media pembelajaran. Untuk mengatasi permasalahan di atas, pemecahan alternatif tindakan perbaikan didiskusikan oleh peneliti dengan guru mata pelajaran bahasa Prancis dengan melaksanakan tindakan jeux de rôles, maka kualitas pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Prancis di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo pada semester genap tahun ajaran 2008/2009 akan meningkat”.




BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Action Research Class) yang dilaksanakan dalam bentuk siklus. Penelitian ini bersifat partisipatif dan kolaboratif yang didasarkan pada permasalahan yang muncul pada keterampilan berbicara. Desain penelitian tindakan yang akan dilakukan menggunakan model Kemmis dan Taggart (via Wiriatmadja, 2007: 66)
Bagan Spiral dari Kemmis dan Taggart (1988)

Adapun model PTK tersebut dimaksud menggambarkan adanya empat langkah dan pengulangannya yang disederhanakan oleh Suharsimi (2006: 97) menjadi:


Keempat langkah tersebut nmerupakan siklus atau putaran, yang artinya sesudah langkah ke-4 lalu kembali lagi ke-1 dan seterusnya.

B. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 7 Purworejo kelas XI Bahasa. Sekolah ini berlokasi di kelurahan Pangen Jurutengah dan Ngupasan, kecamatan Purworejo, kabupaten Purworejo, propinsi Jawa Tengah yang terletak pada pusat kota, tepatnya di sepanjang Jl. Ki Mangunsarkoro No.1 Purworejo. Walaupun letaknya berada di jantung kota, lingkungan SMA ini pada umumny cukup tenang dan kondusif untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan, SMA Negeri 7 Purworejo memiliki gedung peninggalan Belanda di atas tanah seluas ± ha yang teduh oleh asrinya lingkungan sekolah.
SMA Negeri 7 Purworejo memiliki fasilitas yang dapat menunjang proses pembelajaran. Dari segi fisik, sekolah ini memiliki 27 ruang kelas, 3 laboratorium IPA, laboratorium IPS, laboratorium Bahasa, laboratorium komputer, Ruang Multimedia, Perpustakaan Digital, Masjid, Green House, Lapangan olah raga, Wisma Budaya (aula), Rumah dinas (bagi guru dan karyawan), dan lain-lain. Dari segi non fisik, SMA Negeri 7 Purworejo memberikan berbagai fasilitas, antara lain: 3 program jurusan (IPA, IPS, dan Bahasa), Kelas reguler, kelas Immersi, kelas RSBI, kegiatan ekstrakurikuler, program hari berbahasa dan sebagainya. SMA ini memiliki tim guru dari 62 guru mata pelajaran, dua diantaranya adalah guru mata pelajaran bahasa Prancis.
SMA Negeri 7 Purworejo terrnasuk sekolah favorit di Purworejo yang telah banyak membuahkan prestasi siswa dalam bidang akademik maupun nonakademik. Hal itu dapat dilihat dari kuantitas lulusan dan kualitas lulusan

C. Subyek dan Obyek Penelitian
Di kelas bahasa, mata pelajaran bahasa Prancis sejak tahun ajaran 1998/1999 merupakan salah satu pelajaran yang termasuk dalam Ujian Akhir Nasional (UAN), sehingga mata pelajaran bahasa Prancis tidak hanya wajib tempuh, tetapi juga wajib lulus. Di kelas XI Bahasa, alokasi waktu mata pelajaran bahasa Prancis adalah 8x45 menit tiap minggunya atau 360 menit perminggu yang dilaksanakan rutin tiap hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu dengan siswa berjumlah 20 anak, yang terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Pertimbangan diambilnya kelas ini sebagai subyek penelitian karena penguasaan keterampilan berbicara bahasa Prancis sangat dituntut dibanding kelas yang lain. Selain itu, pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Prancis pada kelas ini belum sesuai dengan target ketercapaian pembelajaran.
Obyek dalam penelitian ini adalah peningkatan keterampilan berbicara bahasa Prancis melalui metode jeux de rôles pada siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo semester genap tahun ajaran 2008/2009. Berdasarkan keadaan tersebut, melalui metode jeux de rôles diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru mata pelajaran bahasa Prancis dalam pengajaran keterampilan berbicara dan meningkatkan keterampilan siswa dalam berbicara bahasa Prancis.

D. Prosedur Penelitian
Model penelitian yang dikembangkan Kemmis dan Taggart menggunakan empat komponen PTK (Perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi). PTK mengenal empat tahap atau langkah penting yaitu plan (perencanaan), act (tindakan), observe (pengamatan), dan reflect (perenungan) yang akan diuraikan sebagai berikut:
1. Tahap perencanaan : Merancang strategi metode jeux de rôles untuk mendorong siswa mengembangkan keterampilan berbicara bahasa Prancis.
2. Tahap tindakan : mulai mempraktikkan metode jeux de rôles unutuk mendorong siswa mengucapkan kata dan kalimat bahasa Prancis serta mengungkapkan ide dan pikirannya.
3. Tahap pengamatan : Kegiatan siswa dalam praktik jeux de rôles dicatat, difoto atau direkam untuk melihat proses pelaksanaan yang terjadi.
4. Tahap refleksi : perenungan terhadap hasil tindakan yang telah dilakukan
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Penelitian kelas ini mengandung data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa data perilaku siswa selama proses pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Prancis dengan metode jeux de rôles. Data kuantitatif berupa taingkat kemampuan siswa yang ditunjukkan dengan nilai tes berbicara. Sumber data diambil pada sebelum, selama, dan sesudah penelitian tindakan dilakukan. Data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui beberapa cara dan alat antara lain:
1. observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang perilaku siswa dan guru (kolaborator) dalam proses pembelajaran yang dibantu oleh guru observer pendukung.
2. interview (wawancara)
Wawancara dilakukan peneliti dengan Kepala sekolah, guru (kolaborator), guru observer pendukung dan siswa. Hal ini dilakukan dilakukan untuk memperoleh data tentang pembelajaran bahasa Prancis khususnya pada keterampilan berbicara dan hal yang berkaitan lainnya. Wawancara dilakukan dengan sistem semi struktur dan bebas menurut situasi kondisi yang terjadi.
3. Survey (angket)
Angket ini disusun berdasarkan indikator yang mengungkapkan yang dapat mengungkapkan pengetahuan dan pengalaman berbicara bahasa Prancis dan penerapan metode jeux de rôles. Anget yag digunakan adalah angket tertutup yang berupa cheklist.
4. catatan lapangan
Instrumen ini disusun untuk mengumpulkan data mengenai kegiatan guru, siswa dan hal lain yang terkait dengan proses pembelajaran bahasa Prancis khususnya keterampilan berbicara baik sebelum, selama, maupun sesudah berlangsungnya tindakan.
5. tes berbicara
Tes berbicara dilakukan untuk menjaring data yang menunjukkan tingkat keterampilan berbicara bahasa Prancis siswa subyek penelitian. Tes dilakukan pada sebelum dan sesudah tindakan diberikan. Guru kelas mengevaluasi untuk mengukur tingkat keterampilan siswa. Data yang dihasilkan dengan tes berbicara merupakan data kuantitatif yang dianalisis secara kuantitatif.
6. Dokumentasi
Dokumentasi berupasilabus, rencana pembelajaran, laporan tugas siswa, bagian buku teks yang digunakan, catatan tentang siswa, foto maupun rekaman hasil observasi, wawancara dan pelaksanaan tindakan.
F. Teknik Analisis Data
Dalam analisis data, peneliti membandingkan isi catatan yang dilakukan dengan kolaborator, kemudian data diolah dan disajikan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.
1. Teknik Analisis Data Kualitatif
Teknik analisis data kualitatif dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan berupa wawancara, catatan lapangan, angket dan dokumentasi.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Perbandingan antar data yaitu membandingkan data-data yang diperoleh dari setiap informan.
b. Kategorisasi yaitu mengelompokkan data-data dalam kategori tertentu.
c. Pembuatan inferensi yaitu memaknai data-data dan menarik kesimpulan.

2. Teknik Analisis Data Kuantitatif
Teknik analisis data kuantitatif yang disajikan adalah dengan membentuk statistik deskriptif, Merupakan teknik yang memberikan informasi hanya mengenai data yang dimiliki dan tidak bermaksud menguji hipotesis dan kemudian menarik kesimpulan yang digeneralisasikan untuk data yang lebih besar. Teknik ini hanya dipergunakan untuk menyampaikan dan menganalisis data agar memperjelas keadaan karakteristik data yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2004: 8)
Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes awal dan tes akhir. Data ini berupa skor keterampilan berbicara bahasa Prancis yang penilaiannya menggunakan skor tertinggi 100 dan skor terendah 50. Aspek yang dinilai yaitu ucapan, dialog, ekspresi, pelafalan, dan struktur. Data tes awal dan tes akhir diolah dengan menggunakan uji-t (t-test) untuk mengetahui adanya perbedaan antara tes awal dan tes akhir.

G. Kriteria Keberhasilan Tindakan
Kriteria atau indikator keberhasilan penelitian tindakan adalah:
1. Peningkatan kualitas pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Prancis siswa kelas XI Bahasa semester genap tahun ajaran 2008/2009.
2. Perubahan hasil belajar secara positif. Keberhasilan tindakan tidak ditekankan pada hasil akhir yang dicaoai, tetapi kepada proses berlangsungnya penelitian.
H. Validitas dan Realibilitas Data
Suatu penelitian harus menggunakan instrumen yang baik untuk memperoleh data yang akurat dan dapat dipercaya.Instrumen dapat dikatakan valid apabila instrumen tersebut mampu memenuhi fungsinya sebagai alat ukur dan suatu intrumen dikatakan reliabel apabila instrumen cukuo dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data.
1. Validitas Data
Burns (1999: 161-162) dalam Riana mengemukakan beberapa validitas dalam penilitian tindakan, yaitu:
a. Validitas demokratis (Demokratic Validity)
Validitas ini dilakukan dalam ruang identifikasi masalah, perencanaan tindakan yanng relevan dan hal lainnya dari awal penelitian hingga akhir. Semua obyek yang terkait meliputi peneliti, guru, kepala sekolah, observer pendukung dan siswa terlibat dalam penelitian.
b. Validitas proses (Proses Validity)
Validitas proses dicapai dengan cara peneliti dan nkolaborator secara intensif, berkesinambungan, dan berkolaborasidalam semua kegiatan yang terkait dengan proses penelitian. Penelitian dilakukan dengan guru sebagai partisipan observer yang selalu berada di kelas dan mengikuti proses pembelajaran.
c. Validitas dialogis (Dialogic Validity)
Berdasarkan data awal penelitian dan masukan yang ada, selanjutnya peneliti mengklarifikasikan, mendiskusikan dan menganalisis data tersebut dengan guru sebagai kolaborator untuk memperoleh kesepakatan. Penentuan bentuk tindakan juga dilakukan bersama antara peneliti dan kolaborator. Dialog atau diskusi dilakukan untuk menyepakati bentuk tindakan yang sesuai sebagai alternatif dalam penelitian ini.
2. Reliabilitas Data
Reliabilitas data dipenuhi dengan melibatkan lebih dari satu sumber data (triangulasi). Triangulasi ini diartikan pengecekan data dari berbagai sumber, cara, dan berbagai waktu (Sugiyono, 2008: 372-374)
a. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui berapa sumber.
b. Triangulasi teknik
Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.

c. Triangulasi waktu
Triangulasi waktu dilakukan dengan cara melakukan pengecekan terhadap wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda.

I. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo tahun ajaran 2008/2009 khususnya semester genap. Waktu pelaksanaan penelitian ini dilakukan selama bulan Januari sampai dengan bulan April 2009.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Grasindo Persada
Azies, F dan Alwasilah, AC. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif. Bandung: PT Remaja Rodakarya
Hardjono, Sartinah. 1988. Psikologi Belajar Mangajar Bahasa Asing. Jakarta; Depdikbud
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001)
Keraf, Geroys. 2004. Komposisi. Semarang: Bina Putera
Maidar, Arsyad. 1993. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga
Nurgiyanto, dkk. 2004. Statistik Terapan untuk Penelitian Ilmu-ilmu Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada Universiti Press
Riana R. 2007. Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman di Kelas XI Bahasa MAN Yogyakarta II. Yogyakarta: FBS-UNY
Subyakto, S U. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Tarigan&Tarigan. 1986. Teknik Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Vanda L. 2007. Keefektifan Penggunaan Teknik Rollenspiel pada Pengajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman di SMA Negeri I Sedayu Bantul. Yogyakarta: FBS-UNY
Wiriatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rodakarya
YB Sudarmanto. 1993. Tuntutan Metodologi Belajar. Jakarta: PT. Widiasarana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar